Kamis, 04 November 2021

Tetanus, Awas Hati-hati!

Hai brothaa and sista yang ada diluar sanaaa...gimana nih kabarnya? Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan dimasa pandemi ini...

freepik.com

Hari ini kita belajar tentang Tetanus yuk, hai siapa nih yang jaman kecil nya susah banget disuruh pake sandal kalo main ke kebon tetangga? Emaknya pasti langsung teriak heboh begitu liat anaknya main nggak bersandal. Ternyata ada tujuan nya emak marah, karena memang berbahaya jika kaki kecilmu itu nanti malah tertusuk paku, kawat, atau duri kotor di tanah hihiii…

Hayooo…siapa yang nggak nurut sama emakkk? Semoga dengan tambahan ilmu sedikit dari kami, bisa lebih mengetahui cara mewaspadai penyakitnya. Nah nggak usah lama-lama langsung kita mulai ya...


Apa itu Tetanus?

Istilah tetanus berasal dari bahasa Yunani ‘tetanos’ yang artinya regangan, kekakuan atau kontraksi. Tetanus dikenal sebagai seven day disease, penyakit pada susunan saraf akibat adanya inhibisi interneuronal pada motor neuron yang ditandai dengan spasme otot yang periodic dan berat, inhibisi tersebut disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani

google.com

Spasme dapat terjadi pada otot rahang sehingga menimbulkan penutupan rahang (trismus lockjaw) maupun pada otot-otot leher, perut, punggung (opistotonus). Kontraksi otot bersifat kaku dan nyeri, bisa terjadi local maupun general.

 

Cara Infeksi?

Clostridium tetani menghasilkan 2 jenis toksin yaitu tetanospasmin dan tetanolisin.

tetanospasmin (google.com)

Tetanospasmin merupakan toksin yang berhubungan dengan gejala tetanus, sedangkan tetanolisin diduga berperan dalam kerusakan jaringan dan mengoptimalkan kuman untuk berkembang.

tetanolisin (google.com)

Tetanospasmin terdiri dari rantai berat (H=heavy) dan ringan (L=light) yang dihubungkan oleh jembatan sulfide (S). Rantai berat berperan dalam neuronal uptake dan transport toksin pada motor neuron. Sedangkan rantai ringan yang bertanggung jawab dalam kerusakan interneuron dengan merusak synaptobrevin yang akan menghambat sekresi neurotransmitter GABA dan Glisin.

google.com

Bila ada luka, baik luka baru atau lama seperti: luka tusuk, luka dalam yang kotor, luka bakar, infeksi gigi dan telinga, dan riwayat operasi yang mempunyai suasana anaerob, kuman Clostridium tetani akan berkembang dan memproduksi toksin. Toksin yang dihasilkan oleh spora kuman akan menyebar dengan cara sebagai berikut :

1.  Toksin masuk melalui otot yang terkena luka terutama luka dalam yang kotor atau luka yang kurang vaskularisasi

2. Toksin akan menyebar ke otot-otot yang berdekatan disekitarannya yang selanjutnya menyebar melalui jalur neural secara retrograde dan berakumulasi di ganglion radiks dorsalis menuju inti intermediolateralis

3. Toksin akan menyebar ke nodus limfatikus regional menuju sistem limfatik ke aliran darah

4. Toksin masuk aliran darah melalui sistem limfatik ataupun kapiler di dekat deposit toksin

5. Toksin akan merembes melalui membrane permeable pembuluh darah intramuscular dan berdifusi menuju saraf terminal di dalam seluruh otot tubuh termasuk otot wajah, leher, punggung dan perut, selanjutnya toksin akan naik sepanjang akson sel saraf diseluruh tubuh menuju sel alfa motor neuron di medulla spinalis dan batang otak.

 

Gejalanya seperti apa?

1.   Kekakuan Dan Spasme Otot

Masa inkubasi 5-14 hari. Gejala yang paling umum adalah adanya kekakuan otot, awalnya terjadi pada otot masseter yang menyebabkan kesulitan membuka mulut yang dikenal dengan trismus.


Kekakuan yang terjadi pada otot-otot wajah memberikan gambaran ekspresi wajah yang khas yang dikenal rhesus sardonicus atau rhesus smile.

Pada otot-otot perut menyebabkan perut seperti papan. Sedangkan pada otot faring dan laring menimbulkan kesulitan menelan dan sesak nafas dan bila berat menyebabkan respiratory failure. Adanya kekakuan pada otot batang tubuh seperti leher dan punggung dikenal opistotonus.

Spasme ditandai adanya kontraksi otot-otot yang bersifat tonik, periodic dan disertai rasa nyeri yang hebat. Spasme dapat timbul akibat rangsangan raba, suara, cahaya, ataupun emosional. Frekuensi dan beratnya spasme bervariasi.

 

2.   Gangguan Saraf Otonom

Gangguan otonom yang terjadi melibatkan komponen simpatis dan parasimpatis yang berefek pada sistem kardiovaskuler, gastrointestinal dan ginjal. Gejala yang mungkin muncul seperti aritmia, takikardia, bradikardia, henti jantung, hyperhidrosis, peningkatan dan penurunan tekanan darah yang ekstrem, hipersalivasi, reflex vagal, ileus, stasis lambung, diare, hipermetabolisme katekolamin dan gagal ginjal.

 

Cara pencegahan?

Jika kalian tidak ada yang ingin mengalami gejala atau keadaan seperti diatas, berikut ini tips nya:

1.   Wajib mendapatkan vaksin tetanus sesuai usia ya guys…vaksin itu penting untuk mencegah gejala yang parah jika nanti pada akhirnya kamu terpapar atau terkena

google.com

2. Memakai pelindung kaki dengan bahan yang baik dan memakainya dengan benar. Jika alas kaki mu terbuat dari bahan yang baik, setidaknya akan meminimalisir kedalam luka yang akan terjadi…

google.com

3.   Cuci luka dan bersihkan dibawah air yang mengalir menggunakan sabun, jangan takut perih. Perih sedikit taka pa, asalkan nantinya luka akan sembuh dan cepat kering dan jangan lupa oleskan salep antibiotic pada luka

freepik.com

4.   Jika kamu sudah lama tidak mendapatkan vaksin atau tidak vaksin tetanus dan pada saat yang bersamaan kamu tertusuk paku, kawat atau duri dan besi lain, segera minta pertolongan ke IGD terdekat! Jangan sepelekan luka tusukan paku!

freepik.com

Nah sepertinya cukup sekian dulu ya, semoga bermanfat bagi brothaa and sistaa semua...See you soon ya guys when i see you next time, Bye guys! stay Beauty, Young and Wild yha!

Sumber: Buku Neurologi Untuk Dokter Umum, Bagian Neurologi UNS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar