Selasa, 02 November 2021

Insomnia, si DEWI Yang Tak Bisa Tidur

freepik.com

Hai brothaa and sista yang ada diluar sanaaa...gimana nih kabarnya? Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan dimasa pandemi ini...

Hari ini kita belajar tentang Insomnia yuk, pasti sebagian besar dari pembaca disini ada yang terkena insomnia kan hihiii…

Hayooo..siapa yang sering nih terganggu dengan insomnia? Semoga dengan tambahan ilmu sedikit dari kami, bisa lebih mengetahui cara mewaspadai penyakitnya. Nah nggak usah lama-lama langsung kita mulai ya...


Apa Itu?

freepik.com

Insomnia merupakan kasus gangguan tidur tersering yang dijumpai dalam praktek sehari-hari.

Disebut insomnia jika sleep latency ;ebih dari 30 menit, waktu terjeda setelah onset tidur lebih dari 30 menit, efisiensi tidur kurang dari 85% atau total lama tidur (Total Sleep Time) kurang dari 6 – 6.5 jam, dan keluhan tersebut terjadi minimal 3 hari dalam seminggu.

Prevalensi terbanyak pada kelompok lansia, status social ekonomi rendah, pekerja dengan system rotasi (shift) dan korban perceraian. Wanita akan lebih sering disbanding pria, meningkat pada pengguna NAPZA dan pada pasien yang sedang dirawat di RS.


Kenapa Bisa Terjadi?

freepik.com

Faktor penting yang terlibat dalam patofisiologi insomnia adalah gangguan irama sirkardian siklus bangun – tidur, irama suhu tubuh, keinginan waktu tidur dan waktu terjaga. Bila dibandingkan dengan orang normal, pasien sleep onset insomnia memiliki suhu inti tubuh minimum lebih lambat yaitu pada jam 03.00 vs 07.00.

freepik.com

Beberapa disebabkan karena waktu terjafa somatic dan kognitif selama 24 jam, bukan karena adanya gangguan selama mereka tidur malam atau karena sleep deprivation.

Pasien insomnia memiliki tingkat metabolism yang lebih tinggi dan aktivitas eletro ensefalografi yang lebih tinggi frekuensinya selama tidur.


Apa Gejalanya?


google.com

Pasien insomnia mengeluh kesulitan untuk memulai tidur (sleep onset insomnia) atau mempertahankan tidurnya (sleep maintenance insomnia) meskipun mereka ada kesempatan untuk tidur.

Pasien insomnia juga mengalami waktu tidur yang menjadi singkat dan kurang adekuat, mudah terganggu kualitas waktunya buruk, tidak merasa segar saat bangun tidur, tidak nyaman atau tidak menimbulkan efek restorasi. Seringkali mereka terjaga berulang kali atau bangun terlalu dini dan sulit untuk tidur lagi.

Tanpa penatalaksanaan yang efektif insomnia kronis akan berubah menjadi persisten.

Klasifikasi nya :

1.   Dibagi menjadi durasinya : akut dan kronis

2.   Berdasarkan derajat : ringan dan berat

3.   Berdasarkan profil keluhan

4.   Berdasarkan karakteristik : primer dan komorbid


Penanganan nya?


freepik.com

Target dari terapi adalah untuk mengatasi gangguan tidur dimalam hari sehingga secara otomatis memperbaiki kualitas hidup pasien sepanjang hari.

Terapi non farmakologi insomnia:

Sleep hygiene

Terapi cahaya

Diimbangi dengan terapi retriksi cahaya baik pada permukaan atau akhir periode tidur

Behavioural seperti :

Terapi relasasi

Kontrol stimulus

Terapi kognitif

Terapi Farmakologi :

Biasanya dokter spesialis saraf akan memberikan obat-obatan dengan jenis obat tidur yang dapat merangsang rasa kantuk dalam otak dan membuat seluruh otot menjadi relaks sehingga terciptalah kualitas tidur yang baik.


freepik.com

Tapi untuk obat-obatan tersebut harus dengan resep dokter spesialis! Dokter umum pun mempunyai keterbatasan secara etik untuk pereseparan nya sekarang ini.

Nah sepertinya cukup sekian dulu ya, semoga bermanfat bagi brothaa and sistaa semua...See you soon ya guys when i see you next time, Bye guys! stay Beauty, Young and Wild yha!

Sumber: Buku Neurologi Untuk Dokter Umum, Bagian Neurologi UNS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar