Minggu, 31 Oktober 2021

Bisakah Manusia terkena Rabies?

Hai brothaa and sista yang ada diluar sanaaa...gimana nih kabarnya? Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan dimasa pandemi ini...

freepik.com

Hari ini kita belajar tentang Rabies yuk, dulu waktu kecil kan sering ya pasti ditakut-takuti oleh perkataan orang tua yang seperti ini, “hei hati-hati anjingnya rabies loh nanti ketularan!” hihiii…

Hayooo..siapa yang pernah terkena atau hamper terkena rabies? Semoga dengan tambahan ilmu sedikit dari kami, bisa lebih mengetahui cara mewaspadai penyakitnya. Nah nggak usah lama-lama langsung kita mulai ya...

freepik.com

Rabies adalah penyakit infeksi tingkat akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies.

Virus ini ditularkan ke manusia melalui gigitan hewan seperti : anjing, kucing, kera, rakun, dan kelelawar.

Cara Penularan


freepik.com

Virus rabies yang terdapat pada saliva binatang yang terinfeksi dan ditularkan kepada manusia melalui gigitan atau abrasi pada kulit.

Setelah inokulasi, virus mengadakan replikasi (menggandakan diri) di sel-sel otot kemudian menyebar ke sistem saraf pusat dengan jalur nervus sensorik dan motoric melalui transport akson.

Setelah sistem saraf pusat terinvasi, diseminasi virus berlangsung sangat cepat dengan melibatkan system saraf limbic secara selektif.

Periode inkubasi biasanya bervariasi antara 1-3 bulan. Periode ini lebih singkat bila luka terdapat pada wajah, sebaliknya akan memanjang jika luka terdapat pada kaki.

Gejala Klinisnya :

1.   Stadium Prodromal

Gejala awal berupa demam, malaise, mual, dan rasa nyeri di tenggorokan selama beberapa hari.

2.   Stadium Sensoris

Nyeri, panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka, disusul dengan gejala cemas, dan reaksi yang berlebihan terhadap rangsangan sensorik.

3.   Stadium Eksitasi

Hiperhidrosis (berkeringat berlebihan), hipersalivasi (air liur berlebih), hiperlakrimasi (air mata berlebih), dan pupil dilatasi (membesar). Stadium ini adalah stadium puncak penyakit. Kontraksi otot faring dan otot pernafasan dapat timbul oleh rangsangan sensoris, misalnya dengan meniupkan udara ke muka penderita. Pada stadium ini dapat terjadi apnea (gagal nafas), sianosis (kebiruan karena kesulitan bernafas), konvulsi (kejang) dan takikardia (denyut nadi cepat). Tingkah laku penderita tidak rasional, kadang mania disertai dengan responsive. Gejala akan berulang sampai penderita meninggal.

4.   Stadium Paralisis

Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi, Kadang ditemukan juga kasus tanpa gejala eksitasi, melainkan paresis (kelumpuhan) otot yang bersifat progresif. Hal ini terjadi karena gangguan saraf pada medulla spinalis.

freepik.com

Bila ada dari kalian yang penyuka hewan dan sering memelihara hewan yang telah mengalami gejala diatas setelah digigit, langsung dating memeriksakan diri ke IGD yaa….jangan sampai terlambat!

Karena itu penting sekali dilakukan vaksin tetanus dan vaksinasi rabies pada manusia dan hewan peliharaan, supaya kamu dan anabull berbuluu mu itu tetap dalam kondisi sehat.

Nah sepertinya cukup sekian dulu ya, semoga bermanfat bagi brothaa and sistaa semua...See you soon ya guys when i see you next time, Bye guys! stay Beauty, Young and Wild yha!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar