Rabu, 26 Mei 2021

Pengalaman Memaafkan Sebagai Terapi Jiwa

 

sepositif.com

Hai brothaa and sistaaa semua…sudahkah kamu memaafkan seseorang hari ini? atau mungkin memaafkan diri kita sendiri?

Guys tau ga, berbagai penelitian ternyata menemukan bahwa pengalaman memaafkan berperan penting dalam kesehatan emosional lho. Baik dalam hubungan perkawinan atau keluarga, hubungan perkencanan, bahkan hubungan di tempat kerja.

Secara fisik, pengalaman memaafkan ternyata juga punya hubungan yang signifikan terhadap kesehatan fisik dan psikologis.

Gampangnya, memaafkan dapat menghilangkan emosi marah.

Sebaliknya, tidak memaafkan (unforgiveness) yang berupa perilaku dan respon negatif terhadap orang lain, bisa berlanjut pada kegagalan fungsi sosial, juga masalah kesehatan mental dan fisik.

freepik.com


Manfaat pengalaman memaafkan

  • Mengatasi berbagai gangguan psikologis
  • Mengurangi perasaan marah
  • Mengurangi depresi dan kecemasan
  • Meningkatkan harga diri
  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
  • Meningkatkan kesehatan jantung.

 

freepik.com

Macam pengalaman memaafkan

Memaafkan dapat digolongkan menjadi dua, yakni memaafkan orang lain (others forgiveness atau interpersonal forgiveness) dan memaafkan diri sendiri (self forgivenes).

Saat memaafkan orang lain, seseorang akan mengalami: (a) penurunan motivasi untuk menghindari kontak psikologis atau personal dengan orang yang bersalah; (b) penurunan motivasi untuk balas dendam atau melihat kerugian pada orang yang bersalah; dan (c) peningkatan motivasi untuk berbuat kebaikan terhadap orang yang bersalah.

Orang yang memaafkan (the forgiver) secara aktif berusaha untuk pindah dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang negatif terhadap orang yang bersalah (yang hendak dimaafkan) kepada pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang lebih positif.

freepik.com

Memaafkan diri sendiri didefinisikan sebagai keinginan untuk melepaskan rasa bersalah dan menyalahkan diri, setelah menyakiti orang lain, sejalan dengan menumbuhkan kemurahan dan rasa iba terhadap diri.

 

freepik.com

Proses Memaafkan

Memaafkan butuh proses yang cukup panjang. Model proses memaafkan yang  dikemukakan oleh Enright and Fitzgibbons’s (dalam Kurniati, 2009), menjelaskan proses yang harus terjadi agar seseorang sampai bisa memaafkan.

Model empat tahap ini meliputi:

 (1) fase pembukaan (uncovering) yang meliputi konfrontasi terhadap rasa sakit emosional yang terjadi akibat dari peristiwa menyakitkan

(2) fase pengambilan keputusan, di mana korban menyadari bahwa keputusan untuk memaafkan menguntungkan bagi dirinya

(3) fase tindakan, di mana pembentukan perspektif berpikir yang baru (reframing) akan memfasilitasi perspective taking, empati dan rasa iba

(4) fase hasil, di mana korban memperoleh kelegaan emosional yang pada gilirannya dapat meningkatkan rasa iba terhadap orang lain.

 

internationalforgiveness.com

Bagian kunci dari proses memaafkan adalah mengkonfrontasi emosi yang berkaitan dengan pengalaman yang menyakitkan, menyelesaikannya, dan bahkan melepaskan emosi negatif terhadap orang yang menyakiti dan menggantikannya dengan emosi positif.

Kesimpulan

Memaafkan tidak mudah bagi sebagian orang, karena banyak faktor yang mempengaruhi individu untuk akhirnya memilih memaafkan apa yang mereka alami.

Memaafkan bersifat subjektif, masing-masing orang berbeda dalam menilai persoalan hidup yang dialami, hingga keputusan terkait memaafkan, baik proses maupun faktornya pun akan berbeda.

Tapi mengingat banyaknya manfaat dari pengalaman memaafkan, akan sangat baik jika kita bisa memaafkan diri sendiri dan orang-orang yang pernah berbuat salah pada kita.

Jiwa kita berhak untuk mendapat hal-hal yang baik dalam hidup ini, bukan sampah dan kemuraman hidup.

Maka ambil semua hikmah dan pelajarannya, lalu melangkah lah maju untuk menjadi individu yang lebih hebat di masa mendatang.

 

pinterest.com

Stay Beauty, Cool, Wild and Young!

 

Sumber:

Kurniati, N.M.T. (2009). Memaafkan: Kaitannya dengan empati dan pengelolaan emosi. Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitektur, &Sipil). Vol. 3 Oktober 2009. Universitas Gunadarma-Depok 20-21 oktober 2009

Nalle, I.V.A, & Khotimah, H. (2020). Forgiveness mahasiswa ditinjau dari dukungan sosial. Jurnal psikologi tabularasa volume 15, no.1, april 2020: 12 – 18

Rosita, T. (2018). Implikasi terapi forgiveness terhadap well-being remaja yang mengalami cyberbully. Quanta. vol. 2, no. 3, September 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar